Berang-Berang Hidung Berbulu
Lutra sumatrana
Salah satu spesies berang-berang paling langka di dunia, dengan ciri khas rhinarium atau bagian hidung yang ditumbuhi rambut.

Mengenal Spesies
Informasi mengenai ekologi dan perilaku berang-berang hidung berbulu masih sangat terbatas. Di Indonesia, temuan-temuan dari Sumatra dan Kalimantan menegaskan pentingnya perlindungan rawa, hutan rawa, dan lahan gambut sebagai habitatnya.
Taksonomi
Nama ilmiah: Lutra sumatrana
Author: (Gray, 1865)
Nama Inggris: Hairy-nosed Otter
Nama Indonesia: Berang-berang hidung berbulu
Sinonim:
- Lutra barang Raffles, 1822
- Barangia sumatrana Gray, 1865
- Lutra lovii Günther, 1876
Jenis ini merupakan berang-berang yang paling langka dan dicari. Setelah spesimen tipenya dideskripsikan oleh Gray pada tahun 1865, di Sumatra hewan ini ditemukan kembali pada tahun 2005 melalui penemuan bangkai yang terlindas mobil di pinggir jalan dekat Sungai Musi. Setelah itu terdapat beberapa temuan terbaru di Lampung dan Kalimantan. Namun, penelitian tentang jenis ini lebih berkembang di negara lain seperti Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Oleh karena itu, informasi mengenai ekologinya masih sangat sedikit.
Morfologi tubuh
Panjang tubuh total berkisar 95–133 cm dengan berat sekitar 5–8 kg. Ekornya berbentuk bulat silindris dengan panjang 35–51 cm. Tubuhnya lebih ramping dan panjang sehingga dapat bergerak lebih bebas dan meliuk-liuk. Bagian atas tubuh berwarna cokelat gelap, sedangkan bagian bawah dan perut berwarna lebih terang. Terdapat corak putih kontras pada bibir atas hingga leher.
Jari-jarinya tertutup penuh oleh selaput renang dengan cakar yang berkembang baik. Berang-berang ini memiliki bentuk yang mirip dengan Lutra lutra, tetapi ciri khas pembeda utamanya adalah rhinarium yang ditumbuhi rambut, sedangkan rhinarium Lutra lutra tidak ditumbuhi rambut. Rumus giginya I 3/3, C 1/1, P 4/3, M 1/2 = 36.
Tingkah laku sosial
Masih sangat sedikit informasi yang diketahui mengenai tingkah lakunya. Spesies ini bergerak dengan cara yang lebih meliuk-liuk dibandingkan jenis berang-berang lain. Aktivitasnya bersifat nokturnal dan krepuskular, yang mungkin merupakan cara untuk menghindari aktivitas manusia.
Beberapa informasi menjelaskan bahwa hewan ini tidak menggali lubang sarang, tetapi menggunakan vegetasi rapat sebagai tempat berlindung pada daratan yang lebih tinggi. Di beberapa daerah, berang-berang terlihat sendiri, berdua, atau dalam kelompok hingga lima individu. Komposisi kelompok belum diketahui secara jelas—apakah berupa keluarga, pasangan, atau individu soliter di luar musim berbiak. Jenis ini dilaporkan mudah jinak dan tidak takut terhadap manusia, sehingga diduga lebih sosial dibandingkan Lutra lutra.
Reproduksi
Karena informasi masih sangat terbatas, jenis ini diperkirakan memiliki masa mengandung sekitar dua bulan. Musim berbiak diperkirakan berlangsung dari November hingga Februari, meskipun dapat berbeda menurut lokasi dan ketersediaan mangsa.
Makanan
Makanan utamanya adalah ikan, terutama ikan yang bergerak lambat dan berdaging seperti lele dan gabus. Di beberapa lokasi, ular air juga dimangsa, terutama pada daerah dengan tekanan penangkapan ikan yang tinggi sehingga ikan menjadi jarang. Kondisi seperti ini dilaporkan, misalnya, di Danau Tonle Sap, Kamboja.
Habitat
Jenis ini diketahui menempati habitat rawa dan hutan rawa. Di Thailand, spesies ini menghuni hutan kayu putih. Di Sumatra, temuan tercatat dari rawa di aliran Sungai Musi dan Lampung, serta dari hutan rawa gambut di Kalimantan.
Penyebaran
Daerah sebarannya pada masa lalu diperkirakan meliputi seluruh Asia Tenggara. Saat ini, jenis ini diketahui tersebar di Vietnam, Thailand, Kamboja, Malaysia, Indonesia, Myanmar, dan Brunei.
Pelajari dan Dukung Konservasinya
Setiap catatan lapangan membantu memperkuat pengetahuan mengenai spesies langka ini dan habitatnya di Indonesia.
Dukung KonservasiKembali ke Daftar Spesies